Rabu, 27 Mei 2009

Wanita dalam Goresan Pena (Sebuah Kajian Feminisme)

Pada era global seperti saat ini, tak ada yang membetasi sebuah gerak dan aksi dalam segala hal, begitu pula bersastra. Segala ekspresi bisa diluapkan dan dibingkai dalam sebuah karya sastra yang akan memberikan pemaknaan lebih dalam pada setiap ide yang disampaikan oleh penulis. Bersastra merupakan sebentuk kegiatan yang berproses dan universal. Baik pria maupun wanita berhak mencurahkan ide-idenya dalam goresan pena.

Sejak zaman kolonial, wanita terbatasi dalam geraknya oleh aturan-aturan adat dan masyarakat masa lampau. Dalam pengkisahannya pun, ketika masa Balai Pustaka, seolah-olah wanita menjadi sosok yang terikat, selalu diatur, dan dibentuk menjadi sosok yang pendiam dan selalu menurut. Tak ada luapan emosi, unsur pemberotakan, dan karakter pemberani yang terdeskripsikan dari sosok wanita di dalamnya. Contohnya dalam novel berjudul Siti Nurbaya, karya Abdul Muis. Namun dari masa ke masa citra wanita terus diperbahrui oleh insan-insan sastrawi nusantara.

Awal tahun 2000 yang biasa disebut sebagai era millenium, corak baru meramaikan dunia sastra di Indonesia. Corak baru tersebut lahir dari goresan-goresan pena perempuan Indonesia yang mulai mencuat kuat , dan timbul secara pesat mengisi atmosfer sastra di Indonesia yang telah marak oleh coretan-coretan keperkasaan pria. Pada tahun ini dunia sastra diramaikan oleh karya-karya perempuan, mungkin bisa disebut sebagai luapan feminisme kaum hawa Indonesia. Wanita lebih bebas dan berani berbicara dengan medium sastra.  Tulisan-tulisan mereka biasa disebut sebagai sastrawangi ataupun sastra feminis. Namun bila berbicara tentang sastra feminis dengan karya yang juga mengupas tentang laku-laku feminis, sebenarnya laki-laki penulis di Indonesia pun tak sedikit yang membuatnya dalam bentuk sastra. Namun yang disoroti disini adalah tentang sebuah karya dari perempuan dan untuk perempuan, buah karya tersebut telah lahir dari goresan tangan Ayu Utami, Djenar Maesa Ayu, Dewi lestari, Tamara Geraldine, Fira Basuki, dan masih banyak lagi sastrawan yang lain. 

Tentu saja aliran feminis tersebut tidak dapat lepas dari pemikiran-pemikiran atau pengaruh dari luar karena maraknya era global. Keberanian itu muncul seiring dengan berjalannya waktu, pemikiran-pemikiran itupun sebagai efek dari era postmodernis yang dibentuk oleh globalisasi yang meradang setiap segi kehidupan, termasuk dunia sastra. Sesungguhnya sebuah paham feminis memiliki visi memperjuangkan hak-hak kaum perempuan yang tertindas, namun demikian dalam penerapannya feminisme itupun memikliki karakter masing-masing ada feminisme liberal, feminisme radikal, feminisme moderat, juga feminisme eksistensialis. Julia Kristeva, Luce Irigaray, dan Naomi Wolf menjadi sosok yang kental dengan aroma feminis. Pemikiran-pemikiran dan perjuangan mereka diadopsi oleh wanita-pengarang Indonesia dalam upaya menciptakan sebuah karya feminis.     

Bila kita lihat selama ini, uraian-uraian yang dicap sebagai karya feminis dalam novel-novel maupun cerpen-cerpen Indonesia sebagian besar berbicara tentang perempuan dan seks yang seolah-olah dekat sekali dengan perempan, atau dengan kata lain anggapan selama ini yang beredar yang menempatkan wanita sebagai simbol seks dan objek tercover dan mencuat berkebalikan. Wanita tak lagi digambarkan sebagai sosok yang hanya dijadikan sebagai objek tetapi subjek dalam seks. Wanita lebih memilki kebebasan dalam menjalankan misinya sebagai perempuan. Perempuan berbicara sebagai perempuan. Hal tersebut dieksplor dalam karya-karya sastra goresan pena Djenar Maesa Ayu maupun Ayu Utami dalam karyanya yang berjudul "Jangan Main-Main dengan Kelaminmu", Si Parasit Lajang, Saman dan Larung, dan masih banyak lagi karya-karya yang lain. Mereka menceritakan semuanya dengan tanpa beban akan ketabuan yang akan ditimbulkan. Meskipun pro dan kontra berkecamuk dalam proses peredarannya di permukaan namun mereka tetap berkarya, dan memperkaya dunia sastra Indonesia dengan karakter mereka masing-masing. Banyak juga karya sastra berbau feminis yang tidak berbicara tentang seks di dalamnya,namun sebuah perjuangan perempuan yang lebih dieksplor di dalamnya. Karya-karya Lanfang dan Fira Basuki misalnya.

Ikon seks yang terbentuk dari sebuah nama yaitu wanita atau perempuan tersebut bisa jadi karena memang wanita adalah makhluk yang indah dan karena lekuk demi lekuk tubuhnya menimbulkan hasrat yang dalam, sehingga seks biasa dikaitkan dengan sosok perempuan. Namun dibalik itu perempuan juga memilki kekuatan yang dahsyat dalam mengaktualisasikan dirinya dalam front perjuangan. Wanita lebih memiki kelembutan dan kekhsan tersendiri dibanding pria. Maka dari itu segala sisis yang dimilki oleh perempuan memang menarik untuk diekspos dalam sebuah karya terutama sastra. Wanita itu indah, begitu pula sastran. Sastrapun "dulce at utile"  yakni menghibur dan menyenangkan. Maka dari itu kolaborasi antara sastra dan wanita memang sangat pas dan menarik.

1 komentar:

  1. dibaris pertama :
    membetasi salah ketik
    paragraf 3 baris ke 3 :
    I+ndonesia salah ketik
    satu sastra memiliki kekuatan

    jangan terlalu egois itu intinya

    BalasHapus